Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan

Rabu, 31 Agustus 2016

Jodoh adalah Misteri Ilahi

Berbicara tentang jodoh tidak akan ada habis-habisnya. Topik yang selalu hangat diperbincangkan dari dulu hingga kini, terlebih di kalangan para remaja.

Jodoh adalah misteri Ilahi. Siapapun tidak ada yang bisa mengetahuinya kecuali Sang Maha Pemilik Hati.

Jodoh adalah misteri Ilahi. Bisa dibilang, semua orang mengetahui hal itu. Lalu, mengapa ritual pencarian jodoh masih dilakukan "semau gue"? Padahal yang dinilai bukan apakah kita bertemu jodoh kita atau tidak, tetapi usaha kita dalam pencarian; apakah sesuai tuntunan Sang Pengatur atau selainnya.

Malang. Satu kata yang pas dilontarkan untuk pemuda yang satu ini. Aris, selama 7 tahun merajut kasih bersama seorang wanita yang diakuinya sebagai pacaranya. Berharap akan berlabuh di dermaga pernikahan bersama sang kekasih tercinta, namun akhir cintanya tak seperti yang ia harapkan. Ucapan selamat menempuh hidup baru harus ia lisankan untuk kekasihnya yang ternyata berlabuh di pelabuhan hati orang lain.

Sungguh malang. Sudah jatuh tertimpa tangga pula. Sudah berinvestasi dosa, sakit hati pula. Mau tidak mau, kata "ikhlas" yang harus ditururkan oleh lelaki yang bernama lengkap Aris Prasetyo ini.

Jodoh adalah misteri Ilahi. Lebih baik menyibukkan diri dalam ketaatan yang pasti mendatangkan kebaikan daripada bertahun-tahun bergelut dalam kubangan hitam bernama pacaran yang niscaya mengundang murka Ilahi.

Yuk move on! Karena pacarmu belum tentu jodohmu.

RWijaya
Samarinda, 31/08/2016, 19.28

Senin, 22 Agustus 2016

Tujuh Puluh Satu Tahun Merdeka (Katanya)

Tujuh Puluh Satu Tahun Merdeka (Katanya)

Oleh Eva Ummu Salwa

71 tahun kita merdeka. Jika manusia itu sudah terkategori  lansia. Semakin menua, harusnya kian peka. Tapi apa mau dikata? Kenyataan berbicara. Bangsa ini tak pernah belajar dari kesalahan mereka. Berkali-kali didera penyakit yang sama. Namun tak kunjung jera dan mencari obat patennya. Selalu pakai obat palsu oplosan dari Asing yang membikin euforia.

Tak perlu data statistik atau penelitian ilmiah berlapis-lapis untuk  membuktikan betapa bangsa ini belum merdeka. Belitan penjajah masih membelenggu leher, mematikan potensi bangsa.

Belum lupa kita dengan tragedi penggusuran dimana-mana, reklamasi pulau semena-mena, orang asing bikin kantor kedubes seenaknya, pesawat militer asing lewat tanpa izin pun dimaafkan begitu saja, pulau-pulau disewa dan dijual ke asing atas legalitas negara.

Katanya bangsa ini negara kaya, melimpah dengan sumber daya, kenyataannya rakyat banyak jadi kuli di kampung sendiri. Katanya negeri yang rakyatnya adem tenteram, tapi yang tampak adalah kemiskinan merebak, pengangguran membludak, industri dalam negeri sekarat, kekerasan marak, anak-anak terlantar, TKW  terdampar tanpa perlindungan, dan keluarga retak.

Belum lagi peningkatan hutang negara yang tiada habisnya. Pantas leher ini rasa dicekik. Boro-boro mngulurkan bantuan kemanusiaan pada sesama muslim tertindas di negara lain, pada rakyat sendiri pun pelit. Buktinya biaya pendidikan dan kesehatan mahal. Tarif listrik dan bbm tiap tahun naik. Subsidi gas dan pupuk dicabut. Jalan-jalan dan jembatan rusak bertahun-tahun tak dilirik.

Kok bisa begitu? Miris, miris.

Tampaknya, mental terjajah yang diwariskan sejak zaman penjajahan Belanda telanjur mendekam di benak penguasa kita. Malas mikir, berharap belas kasihan pada dunia. Cari muka menghiba-hiba agar diakui Amerika dan negara-negara satelitnya. Selalu merasa tidak mampu menangani masalah sendiri dan melemparkan tanggungjawab pada rakyat yang dilegitimasi oleh undang-undang bernafas neolib.

Sungguh kita belum merdeka.

Harus ada revolusi mental di benak bangsa ini dalam memaknai merdeka. Perlu reset ulang, dari mental terjajah ke mental merdeka. Namun jelas mesti dipahami dulu, hakikat merdeka itu apa. Tentu harus ada batasan, supaya tidak bias dengan makna kebebasan, bukan?

Dikutip dari web official yuk ngaji, ternyata merdeka hakiki bersumber dari fitrah sejati, bahwa manusia tak layak menghamba pada makhluk, tapi hanya menghamba kepada Al Khaliq.

Dialah Allah SWT, Sebagai Yang Mencipta, tentu Dia-lah yang paling tahu tentang apa yang terbaik dan apa yang terburuk bagi ciptaan-Nya. Tentang pemilikan dan penguasaan Allah terhadap segala sesuatu, Allah berfirman:

وَلِلَّهِ مَا فِي السَّمَوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ وَإِلَى اللَّهِ تُرْجَعُ الْأُمُورُ

Kepunyaan Allahlah segala yang ada di langit dan di bumi; dan kepada Allahlah dikembalikan segala urusan. (QS. Ali Imrân/3: 109)
Sebagai milik Allah, maka –suka atau tidak suka—semuanya pasti dikembalikan dan berserah diri kepada Allah SWT:

وَلَهُ أَسْلَمَ مَنْ فِي السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ طَوْعًا وَكَرْهًا وَإِلَيْهِ يُرْجَعُونَ

“…kepada-Nya-lah berserah diri siapa saja yang ada di langit dan di bumi, baik dengan suka maupun terpaksa, dan hanya kepada Allahlah mereka dikembalikan.” (QS. Ali ‘Imrân/3: 83)

وَلِلَّهِ غَيْبُ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ وَإِلَيْهِ يُرْجَعُ الْأَمْرُ كُلُّهُ فَاعْبُدْهُ وَتَوَكَّلْ عَلَيْهِ وَمَا رَبُّكَ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ “

Dan kepunyaan Allah-lah apa yang ghaib di langit dan di bumi dan kepada-Nya-lah dikembalikan urusan-urusan semuanya, maka sembahlah Dia, dan bertawakkallah kepada-Nya. Dan sekali-kali Tuhanmu tidak lalai dari apa yang kamu kerjakan.”(QS. Hûd/11: 123)

Makna kalimat pasif  "dikembalikan" karena memang semua persoalan tanpa kecuali, pasti akan dikembalikan atau dipaksa untuk kembali kepada Allah Sang Pemilik & Sang Penguasa (al-Malik). Sebab itulah maka  tidak ada pilihan lain bagi manusia kecuali berserah diri secara mutlak kepada Allah SWT.

Atas dasar ini pula, manusia tidak dibenarkan memisahkan aktivitas hidupnya, sebagian untuk Allah dan sebagiannya lagi untuk yang lain. Semuanya harus total dipersembahkan hanya kepada Allah SWT:

قُلْ إِنَّ صَلاَتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ

“Katakanlah, sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidup dan matiku hanyalah untuk Allah Pemelihara alam semesta.“ (QS. Al-An‘âm/6: 162).

Jadi jelas, merdeka hakiki bersumber dari fitrah sejati, bahwa manusia tak layak menghamba pada makhluk, tapi hanya menghamba kepada Al Khaliq Al Mudabbir. Saatnya gelorakan semangat revolusi mental dari terjajah menuju mental merdeka yang hakiki. Agar seluruh persoalan bangsa ini bisa dipecahkan secara mandiri dari sumber yang pasti, yaitu Al-Khaliq.

Merdeka.

Eva, Kandangan, Kalsel, 18 Agustus 2016

Deep Writing

Deep Writing *)

Tulisan ini terinspirasi dari materi yang pernah disampaikan Sang Mentor gila baca, Mas Nafiudin. Beliau menekankan pentingnya deep reading (membaca secara serius, pen.) bagi seorang penulis. Nah, di sinilah saya tergelitik untuk menulis tentang deep writing (menulis secara serius, pen.).

Pentingnya deep reading dilatarbelakangi adanya kesulitan orang untuk mengingat apa yang telah dibaca. Semua itu terjadi karena kebiasaan membaca secara sekilas, sehingga apa yang kita baca tidak langsung tersimpan di memori. Membaca di internet, status dan pesan pendek dan sebagainya, itulah yang menjadi faktor penghambat deep reading. Hal ini sebenarnya tidak jauh berbeda dengan aktifitas menulis. Karena pada era digital sekarang ini, hampir setiap kita senang menulis, yang paling sering adalah menulis pesan dan status di media daring. Tetapi, mungkin hanya sedikit di antara kita yang bisa menuangkannya menjadi sebuah tulisan utuh. Mengapa? tentunya bukan karena kita tidak bisa menulis, tetapi hanya karena belum terbiasa melakukan deep writing.

Padahal, di antara ribuan pesan dan status yang pernah kita tulis, pasti sebagiannya ada yang bermanfaat untuk orang banyak. Sayang sekali jika ia dibiarkan berlalu begitu saja. Oleh karena itu, setelah terbiasa menulis apapun setiap hari, kita bisa up grade diri kita dengan melakukan deep writing.

Berikut ini adalah beberapa hal yang bisa membantu kita melakukan deep writing, yaitu :

1) Sediakan waktu luang.
Menulis secara serius tanpa waktu luang tentu agak susah, terutama bagi para pemula. Meskipun bagi para penulis mayor bisa jadi merupakan sesuatu hal yang mudah. Waktu luang yang dimaksud tidak mesti waktu khusus, meskipun itu lebih dianjurkan. Di sela-sela waktu luang ketika bekerja, atau sembari menunggu masakan matang juga bisa. Yang penting, kita sejenak mengkhususkannya untuk menulis. Biar saja barang sepuluh menitan, tidak menjadi masalah. Minimal kita bisa menuangkan sebuah kerangka. Pada waktu yang lain, bisa kita kembangkan menjadi sebuah tulisan utuh.

2) Bebaskan diri sejenak dari akifitas online.
Supaya serius menulis, lepaskan dulu gadget anda. Jika pun anda menggunakan android untuk menulis, offline-kanlah terlebih dahulu. Curahkanlah dulu semua pikiran pada apa yang anda tuliskan. Tentunya, sesuai kerangka yang telah anda buat. Jika tulisan berupa opini, sesuaikanlah dengan kerangka opini. Mulai dari fakta pengantar, masalah, solusi masalah dan ajakan untuk mengikuti solusi yang anda tawarkan. Adapun jika tulisan berupa cerpen, mulailah menulis sesuai alur cerita, peran, konflik serta penyelesaian konflik yang anda buat.

Aktifitas online bisa memudarkan fokus anda. Dalam pembuatan opini dan artikel, aktifitas online terkadang dibutuhkan untuk memperkaya data dan analisa, tetapi saya tidak menyarankan dilakukan di awal aktifitas menulis. Karena aktifitas itu bisa mengganggu kerangka analisa yang telah anda buat. Bisa-bisa anda malah terbawa dengan alur opini milik orang lain. Begitu pula dalam pembuatan cerpen, yang sangat membutuhkan pelibatan hati dan perasaan mengolah kata-katanya. Tentunya semua itu akan terganggu dengan aktifitas online.

3) Khusus opini dan artikel, sertakan fakta dan data yang relevan.
Menyertakan fakta dan data dalam sebuah artikel dan opini sangatlah penting. Fakta bisa dikutip dari sebuah kejadian heboh, misal ketika kita sedang menulis masalah pergaulan kita bisa menyertakan fakta tentang remaja yang membakar diri karena diputuskan pacar. Sedangkan data tentang aborsi akibat KTD (Kehamilan Tidak Diinginkan) bisa diturunkan dari data rata-rata tahunan menjadi data rata-rata harian. Misalnya ketika Sdri. Fahira Idris menyampaikan 50 orang meninggal karena miras dalam setiap harinya. Hal itu lebih mengena untuk dibayangkan pembaca dibandingkan data 18.250 orang meninggal dalam setiap tahun.  

4) Gunakan Show not tell, untuk penulisan puisi dan cerpen
Tips ini merupakan salah satu materi di Akademi Menulis Kreatif. Show not tell menggambarkan apa yang dituliskan bukan sekedar menceritakan. Misalnya ketika Hamka bermaksud menyampaikan “Saat kamu kecil, ibumu meninggal karena sakit.” di dalam novel Tenggelamnya Van Der Wicjk, beliau menuliskannya, “engkau masih merangkak-rangkak di lantai dan saya duduk di kalang hulu ibumu memasukkan obat ke dalam mulutnya. Nafasnya sesak turun naik, dan hatinya rupanya sangat dukacita akan meninggalkan dunia yang fana ini.”

5) Membaca untuk dapat menulis atau menulis untuk terdorong membaca
Menulis apa yang sudah dibaca atau membaca untuk memenuhi isi tulisan, keduanya sama saja. Kita bisa memilih salah satunya. Untuk pembuatan artikel dan opini kita butuh buku referensi. Perbedaan keduanya terletak pada kutipan. Untuk tulisan artikel kita bisa mengutip buku apa adanya kemudian menyertakan keterangan sumber di catatan kaki. Adapun untuk tulisan tipe opini, apa yang dibaca dari buku referensi dituangkan dengan gaya bahasa sendiri. Tulisan opini pun tidak perlu menyertakan referensinya secara detail sebagaimana artikel.

Sedangkan untuk dapat membuat cerpen yang bersifat fiksi, kita mesti banyak membaca karya fiksi terlebih dulu. Hal ini terkait dengan pembiasaan diri menuangkan tokoh dan konflik. Bahkan di Akademi Menulis Kreatif, diperkenalkan latihan mengubah karya fiksi orang lain menjadi karya fiksi sendiri. Tentunya dengan mengubah tokoh, alur cerita serta endingnya. Namun, semuanya tentu kembali pada gaya menulis masing-masing. Yang pasti, aktifitas membaca dan menulis tak bisa dipisahkan.

Itulah beberapa kiat yang bisa dilakukan untuk membantu kita belajar deep writing. Semoga kiat-kiat sederhana ini dapat bermanfaat. Khususnya kepada para master di Akademi Menulis Kreatif, semoga ilmu yang telah diberikan menjadi ilmu yang bermanfaat.

(Ary H. Attasiky – Islamic Writer Educator 19 Dzulqo’dah 1437 H)

*) Isi tulisan ini tidak ada hubungannya dengan buku Deep Writing yang ditulis Eric Maisel
     

Sabtu, 13 Agustus 2016

Bubble Succes Vs True Succes

Teringat sebuah istilah di dunia ekonomi, Bubble Ekonomi. Sebuah kondisi yang menggambarkan kemajuan pertumbuhan ekonomi yang meningkat, tetapi bobrok karena hanya ditopang kerapuhan serta ketidakpastian. Sehingga, pertumbuhan ekonominya ibarat seseorang yang meniup bubble gum (permen karet), terus mengembang sampai batas tertentu, lalu meletus seketika.
Bila diukur dengan materi dan jabatan yang dimiliki, tidak sedikit orang yang terkategori sukses di tengah masyarakat. Bahkan kita melihatnya dengan penuh “Wah!”. Namun banyak fakta membuktikan, kesuksesan tersebut pun bisa hanya menjadi gelembung semata. Kesuksesan yang mengandung potensi kehancuran.
Kita mengenal para selebriti seperti Michael Jackson, Marlyn Monroe, Whitney Houstan serta sederet nama tenar lainnya. Dibalik ketenaran dan kekayaannya, hidup mereka berujung pada depresi yang berat. Atau kalangan pebisnis seperti Allen Stanford -pimpinan Stanford Financial-, Bjorgolfur –CEO West Ham United FC, sekaligus orang terkaya di Islandia- serta Alberto Vilar –Investor Amerika yang terkenal dermawan, hidup mereka berujung hukuman karena tindakan kriminal yang dilakukan. Atau kalangan ilmuwan seperti Alan Turing –bapak ilmu komputer modern-, Edwin Armstrong –penemu radio FM-, serta Hans Berger –penemu EEG- serta masih banyak yang lainnya. Hidup mereka berujung pada stress dan bunuh diri. Mereka adalah orang-orang yang tidak betah dengan kesuksesannya. Sebuah bubble succes.
Kaum muslim juga mengenal para penguasa seperti Fir’aun serta Namruz, kekuasaan mereka yang sangat besar hanya berujung pada kebinasaan. Atau kita juga pernah membaca kisah Tsa’labah, yang menjadi lalai ibadah setelah hartanya berlimpah. Tentu, kesuksesan tidak hanya terukur dengan ketenaran, ilmu, harta serta jabatan semata. Bila hanya materi yang dijadikan pengukur kesuksesan, hanya akan mengantarkan manusia pada Bubble Succes.
Tidak menjadikan materi semata sebagai pengukur kesuksesan bukan berarti menafikan kebutuhan manusia terhadapnya. Untuk meraih keseimbangan hidup, nilai materi tetap harus diraih sebagaimana nilai-nilai lainnya, seperti nilai akhlak (seperti kejujuran), nilai kemanusiaan (seperti membantu orang lain) serta nilai spiritual (seperti ibadah). Karena itulah, Islam mewajibkan bekerja dan mencari nafkah.
Namun adakalanya usaha dan hasil tidak selalu berbanding lurus, di sinilah kita penting untuk memahami konsep True Succes (Kesuksesan Hakiki). Sebuah kesuksesan yang posisinya lebih tinggi di atas kesuksesan kita dalam meraih nilai apapun dalam hidup kita.
True Succes (kesuksesan hakiki) dapat diraih tatkala manusia menyertakan ruh dalam peraihan nilai-nilai hidupnya. Ruh berupa kesadaran akan dirinya sebagai makhluk Pencipta. Kesadaran untuk menyertakan ketundukan atas setiap ketetapan serta aturan-Nya. Kesuksesan hakiki akan mengantarkan manusia pada kebahagiaan dan ketenangan batin. Selalu bersyukur dan semakin dekat dengan Sang Pencipta. Ia akan menjadi pembawa kemaslahatan bagi setiap insan.
Mungkin saat ini kita akan sulit membayangkan, ada seorang yang kehilangan harta, kemewahan, keluarga serta kedudukan. Kemudian ia menjadi seorang yang sangat miskin, hingga sehari makan dan beberapa hari menahan lapar. Bahkan di akhir hayatnya, ia hanya berpakaian kasar. Sehingga ketika hendak dikebumikan, bagian kakinya hanya ditutup oleh rerumputan ikhdzir. Akan tetapi, ia menjadi orang yang sangat sukses dalam hidupnya. Dialah Mush’ab Bin Umair r.a., duta Islam pertama yang berperan dalam mengislamkan Madinah.
Ternyata True Succes bukan hanya diraih oleh orang yang kekurangan harta, ia juga dapat diraih saudagar kaya. Seorang saudagar yang pernah menyumbangkan 700 unta beserta muatannya yang penuh dagangan, 500 kuda serta 1500 kendaraan penuh muatan untuk kepentingan jihad di jalan Allah. Pun menjual tanahnya seharga 40 ribu Dinar (sekitar 98,6 milyar rupiah) untuk dibagikan kepada ummul mukminin dan fakir miskin. Dialah Abdurrahman bin Auf r.a.
Saudagar kaya yang pernah menangis ketika hendak menyantap makanan, selera makannya hilang tiba-tiba seraya berkata : “Mush’ab bin Umair telah gugur sebagai syahid. Ia jauh lebib baik dariku. Ia dikafani dengan selembar kain. Jika ditutupkan ke kepalanya, kakinya kelihatan. Jika ditutupkan ke kakinya, kepalanya kelihatan. Hamzah juga telah gugur sebagai syahid. Dia jauh lebih baik dariku. Ia tidak memiliki kafan kecuali selembar kain. Namun sekarang, kita diberi kekayaan dunia begini berlimpah. Aku khawatir, ini adalah pahala kebaikan yang disegerakan.” Masya Allah! Ia benar-benar saudagar super kaya yang selalu sadar akan posisinya sebagai makhluk Allah Swt.
Kesuksesan hakiki pun telah diraih oleh seorang penguasa. Seorang kepala daerah yang diberi tunjangan senilai 4000-6000 dinar dalam setahun (821 juta s.d. 1,2 milyar rupiah perbulan), tetapi ia tak mengambilnya sedikit pun bahkan membagikannya kembali. Ia menghidupi dirinya dengan menganyam keranjang dari daun kurma. Ia membeli daun kurma seharga satu dirham, dibuat keranjang lalu dijual seharga tiga dirham. Satu dirham digunakan sebagai modal, satu dirham untuk nafkah keluarga dan satu dirham lagi untuk sedekah. Dialah Salman Al Farisi. Putra bangsawan Persia yang rela meninggalkan semua kemewahannya, lalu berjuang mencari kebenaran hakiki dari satu guru ke guru yang lain, hingga akhirnya ia dipertemukan dengan Islam.
Para bangsawan pun tak kalah ketinggalan, sejarah mencatat seorang bangsawan yang mampu meraih True Succes dalam hidupnya. Dialah Usaid Bin Hudhair r.a. Bangsawan pembesar yang penuh kezuhudan. Egonya tertundukkan iman dan ketaatannya kepada Allah Swt dan Rasul-Nya. Dia menjadi seorang penengah di tengah perdebatan sengit para sahabat di Saqifah Bani Sa’adah. Pasca wafat Rasulullah Saw, sekelompok Anshar yang diketuai Sa’d Bin Ubadah menuntut bahwa merekalah yang berhak menduduki kursi khalifah.
Di tengah perdebatan itu, Usiad Bin Hudhair berkata : “Kalian tahu bahwa Rasulullah berasal dari kaum Muhajirin. Karena itu, Khalifah yang menggantikannya juga semestinya dari Kaum Muhajirin. Kami Kaum Anshar adalah para pembela Rasulullah. Karena itu, hari ini kami juga harus menjadi pembela Khalifah yang menggantikan Rasulullah.” Hingga ketika Usaid Bin Hudlair wafat, para pengantar jenazah mengulang-ulang sabda Rasulullah Saw, “sebaik-baik laki-laki adalah Usaid bin Hudhair.”
Begitu pula kesuksesan hakiki dapat diraih oleh seorang prajurit, mantan budak belian yang tidak jelas siapa ayahnya. Sehingga namanya hanya dikaitkan dengan orang yang telah memerdekakannya, dialah Salim Maula Abu Hudzaifah (Salim mantan budak Abu Hudzaifah). Ketaqwaan dan keshalihannya telah mengangkatnya menjadi tokoh Islam terkemuka. Seorang prajurit yang berani menegur tegas panglima besar Khalid  Bin Walid, ketika ia menyelisihi perintah Rasul Saw. Saat Rasulullah mengirim beberapa pasukan kecil untuk berdakwah (bukan untuk berperang) ke kampung-kampung Arab di sekeliling Mekkah, terjadi insiden yang menyebabkan penggunaan senjata dan peperangan. Salim terus menerus mengingatkan Khalid, bahkan tiada henti-hentinya memohon ampun kepada Allah Swt, “Ya Allah, aku berlepas diri kepada-Mu dari perbuatan yang dilakukan Khalid.”
Pilihan sikapnya yang tegas untuk mengingatkan Khalid ternyata tepat. Sikap Salim inilah yang meredakan kemarahan Rasulullah Saw. Ketika Rasulullah Saw bertanya mengenai  insiden peperangan tersebut, “Adakah yang menentangnya (menentang Khalid, pen.)?”. Kemudian para sahabat menjawab, “Ada, Salim Maula Abu Hudzaifah.” Sungguh ia seorang rakyat, prajurit serta mantan budak belian yang sadar akan posisinya, bahwa kemuliaan seseorang hanyalah terletak pada ketaqwaannya.
Sebelum meninggal dunia, Umar r.a. pernah berpesan, “Seandainya Salim (Maula Abu Hudzaifah, pen.) masih hidup, pasti aku serahkan urusan Khalifah kepadanya setelah kematianku.”
Itulah sedikit kisah True Succes yang telah diraih manusia, siapa pun dia serta di manapun posisi dan kedudukannya. Mereka adalah para manusia mulia yang tidak lain adalah sahabat dan binaan Rasulullah Saw. Mereka begitu mengagumkan hingga terlihat laksana manusia fiktif dalam dongeng sebelum tidur. Seolah tak pernah ada manusia-manusia seperti itu. Para manusia yang mampu meraih berbagai nilai dalam hidupnya dengan tetap membawa ruhnya, yakni kesadaran akan dirinya sebagai makhluk Allah Swt. Semoga kita dapat mengikuti jejak-jejak mereka, menjadi orang-orang sukses meraih berbagai nilai dalam kehidupan, seraya diiringi kesadaran bahwa kita adalah hamba Allah Swt. Aamiiin. (Ary H. – Penulis di Akademi Menulis Kreatif)

Daftar Bacaan :
  •  The Model. Nopriadi Hermani, Ph.D.
  • Rijalun Haula Rasulillah (ed. terj.). Khalid Muhammad Khalid

Minggu, 07 Agustus 2016

Agar Buku Tak Sekedar Jadi Koleksi

sumber gambar : bruziati.files.wordpress.com


Membeli buku tetapi tak dibaca, duh sayang sekali jadinya. Bisa jadi karena semangat membeli buku belum sebanding dengan semangat membacanya. Sehingga buku yang dibeli hanya sekedar menjadi koleksi. Buku di rak tertata rapih, indah dipandang namun tidak terjamah. Padahal jika dijumlah dengan rupiah, tentu tidaklah murah.
Tidak semua orang senang membeli buku, tetapi sungguh sayang jika hanya sekedar jadi pajangan. Karena itulah, koleksi buku kita mesti dihidupkan. Selain agar uang yang telah dikeluarkan tidak menjadi percuma, menghidupkan buku koleksi juga bisa menjadi ladang amal jariyah.
Supaya buku yang dibeli tak sekedar menjadi koleksi, ada beberapa tips yang bisa Anda coba.
1)   Dari yang Disukai Menuju yang Dibutuhkan
Tak sedikit dari kita lebih mengutamakan buku yang dibutuhkan, meskipun tidak disukai. Padahal, pertimbangan tersebut tidak sepenuhnya benar. Selain hanya akan menambah tumpukan buku di rumah, hal itu juga bisa mendegradasi minat baca keluarga. Sebaiknya, pilihlah genre-genre buku yang disukai anggota keluarga, meskipun tentunya tetap dengan seleksi akan kandungannya. Jika kita suka novel, utamakan membeli buku-buku novel. Karena hal itu akan membuat kita semangat membacanya. Saat ini, banyak sekali pilihan-pilihan novel-novel dengan konten islami dan berkualitas.
Setelah semangat membaca kita terjaga, barulah kita membeli buku-buku yang dibutuhkan. Apa prioritasnya? tentunya, visi dan misi pribadi dan keluarga-lah yang dijadikan panduan.
2)   Ketahuilah Isi Buku Sebelum Anda Membelinya
Seringkali judul buku dibuat untuk menarik minat konsumen. Padahal isinya belum tentu sesuai harapan. Karena itulah penting bagi kita untuk mencari informasi tentang isi buku sebelum membelinya. Pastikan isi buku yang kita beli sesuai dengan yang kita bayangkan. Caranya bisa dengan membuka daftar isinya, atau membacanya dengan acak mulai halaman depan, tengah lalu belakang. Jangan sungkan-sungkan untuk minta ijin kepada pemilik atau penjaga toko, supaya kita bisa membuka segelnya. Tentu dengan alasan untuk mengetahui isinya sebelum kita membelinya. Jika tidak diperbolehkan, kita bisa membaca penjelasan ringkasan isi yang biasanya terdapat pada bagian belakang covernya, atau bisa juga dengan menjelajahi dunia maya.  Jangan sampai kita kecewa ketika sudah membelinya, pas sampai di rumah, eh isinya ternyata jauh dari  yang kita duga.  
3)   Bukan Sekedar Murah
Siapa sih yang tidak ingin membeli barang dengan harga murah? semuanya pasti suka. Tapi perlu diingat, bahwa harga murah bukan berarti gratis atau tanpa rupiah. Buat apa kita membayar sesuatu yang dipastikan tidak akan bermanfaat ke depannya. Meskipun bisa saja buku yang murah lebih bermanfaat dibandingkan buku yang mahal. Tetapi jangan sampai buku murah tersebut bukan buku yang disukai, serta bukan pula yang dibutuhkan. Akhirnya, berakhir di rak sebagai pajangan.
Supaya tidak terjebak promo buku murah, listlah daftar buku yang ingin dibeli dan dibutuhkan. Sehingga ketika ada promo buku murah, kita bisa menyeleksi buku mana saja yang masuk dalam target pembelian.   
4)   Buatlah Program Membaca di Rumah
Punya koleksi satu buah buku yang dibacakan kepada anggota keluarga, jauh lebih bermanfaat dibandingkan punya koleksi segudang tetapi hanya jadi pajangan. Karena itulah, carilah waktu luang keluarga untuk berkumpul dan membaca buku bersama. Sebagai perangsang minat, bacakan satu buku secara rutin. Utamakan buku-buku kisah-kisah yang ringan, bukan buku-buku yang bersifat pemikiran.  
Bagi yang sudah berkeluarga, program membaca di rumah juga bisa dibuat dengan sayembara. Kita bisa menyiapkan hadiah menarik untuk anak-anak kita yang menamatkan buku bacaannya. Tak perlu mahal-mahal. Malahan jika anak sudah keranjingan membaca, bisa jadi mereka minta buku bacaan sebagai hadiahnya.
5)   Tak Perlu Alergi dengan Berantakan
Seringkali kita tidak terbiasa dengan kondisi berantakan. Bahkan terkait buku sekalipun. Seolah-olah buku tak terjamah di rak, jauh lebih indah daripada berantakan di lantai dan kasur. Padahal, bukankah kita membeli buku untuk dibaca? Bila demikian, biarlah para anggota keluarga menikmati cara membacanya masing-masing. Karena bisa jadi itulah cara mereka menikmati aktifitas membaca. Ada lho, orang yang buku bacaannya harus tetap tersimpan di tempat terakhir ia membacanya. Bahkan jika kita memindahkannya, selera bacanya pun lalu menghilang.
6)   Menulislah
Membaca dan menulis tak bisa dipisahkan. Jika mentok membaca karena malas, menulislah. Koleksi buku-buku di rumah bisa terbagi dua, yakni yang disukai atau  yang dibutuhkan. Biasanya kita berkutat pada buku-buku yang kita sukai saja. Padahal kita seringkali mengoleksi juga buku-buku yang kira-kira akan dibutuhkan, biasanya buku-buku yang dibutuhkan masuk dalam kategori buku rujukan. Dengan aktifitas menulis, koleksi buku rujukan tersebut akan menjadi hidup. Menulislah tentang isu yang aktual, karena temanya pasti akan berganti dan beragam. Dengan demikian, koleksi buku-buku kita akan terjamah semua. Bila sedang ramai isu tentang menikah dini, minimal buku-buku fikih wanita, psikologi, pergaulan Islam, serta pendidikan anak akan keluar dari rak kita. Tapi, rujukan kan bisa kita cari juga via internet? Bagi penulis, merujuk pada buku sumber jauh lebih memuaskan dan membahagiakan.
Itulah beberapa tips yang bisa dicoba untuk menghidupkan koleksi buku di rumah. Beberapa tips tadi hanyalah eksplorasi penulis. Tidak menutup kemungkinan, Anda pun memiliki tips-tips lain yang bisa diterapkan, bahkan lebih sesuai dengan keadaan di rumah. Ala kulli hal, Semoga tips-tips ini aplikatif dan bermanfaat. Aamiin.
(Ary H. – Islamic Writer Educator / 5 Dzulqo’dah 1437 H – 8 Agustus 2016)  

Haruskah Nikah Dini?

Wow, surprise.

Itulah reaksi pertama saya, begitu baca berita pernikahan dini seorang ustadz muda. Hingga kini beritanya booming di mana-mana. Di-up semua media. Dan meruaplah pro-kontra. Itu sudah pasti.
Di negeri yang kental liberalisasi ini, semua berhak memberikan pendapatnya. Dibedahlah itu fakta dari berbagai sisi.

Bagi kontra nikah dini, muncul kekhawatiran dengan diblow-upnya berita pernikahan ini. Kuatir menginspirasi. Maka diungkaplah berbagai data statistik agar tercapai justifikasi.

Kabarnya, nih, hasil survey Plan Indonesia sebanyak 44% pelaku pernikahan dini mengalami KDRT.  Kesimpulan pun mengarah pada perlunya merevisi usia pernikahan perempuan yang selama ini timpang dibandingkan laki-laki sebagaimana yang diatur dalam UU Perkawinan saat ini.

Hanya saja, perlu dipertanyakan juga. Apakah KDRT penyebabnya adalah semata-mata usia? Kalau usia hanyalah satu dari sekian faktor, mengapa solusinya mentok di revisi usia perkawinan? Bagaimana dengan stress masalah ekonomi, tekanan kriminalitas, godaan pornografi-pornoaksi yang melibas semua umur, narkoba/miras dan lain-lain?

Terus, diungkap juga, kabarnya di provinsi Jawa barat Barat tingkat perceraian sangat tinggi dari tahun ke tahun. Perbandingan pada tahun 2013 hingga Oktober 2014  mengalami tingkat angka perceraian hampir mencapai 10% dibanding jumlah pernikahan. Artinya, peningkatan angka perceraian cukup signifikan dibandingkan tahun sebelumnya. Demikian dikatakan Kepala Subbag Informasi dan Humas Kanwil Kementerian Agama Provinsi Jabar, Abdurrahim, pada Seminar Pendewasaan Usia Perkawinan di Bandungbeberapa waktu lalu. Lebih lanjut Abdurrahim menyatakan bahwa salah satu penyebabnya adalah pernikahan usia dini.

Tuh, kan, hanya salah satu penyebab. Bagaimana dengan penyebab lainnya? Saya jadi mikir sendiri, yang bermasalah itu usianya atau pendewasaannya?

Lalu ada lagi data dari riskesdas 2010, jumlah kematian ibu karena terlalu muda melahirkan sebanyak 2,6 %.

Lalu, yang 7,4% nya gimana? Terus penyebab kematian ibu melahirkan di usia muda, apa sudah ditelusur baik-baik? Jangan-jangan karena faktor kurang gizi, kurang pengetahuan, tak punya duit buat ongkos bersalin, atau prosedur bpjs yang bebelit-belit. Bukan semata-mata tersebab usia.

Lalu, yang melahirkan di luar nikah, apa udah dimasukin ke data statistik? Ternyata banyak juga tuh abg melahirkan yang sehat-sehat saja. Bahkan melahirkannya ada yang di dalam WC, tanpa pertolongan memadai.

Saya di sini cuma mau obyektif saja melihat fakta.

Nah, bagi yang pro-nikah dini, ada juga data tandingannya. Tuh, lihat, tingginya angka gaul bebas di kalangan remaja. Yang kena Hiv/Aids ternyata kebanyakan adalah remaja. Belum lagi married by accident. LGBT? Oh no, remaja juga ketularan gaya gaul jenis ini.

Hasil penelitian Yayasan Kesuma Buana (dalam http:/www.acicis.murdoch.edu.au, diakses pada 10 Maret 2012) “menunjukkan bahwa sebanyak 10.3% dari 3,594 remaja di 12 kota besar di Indonesia telah melakukan hubungan seks bebas”, berdasarkan penelitian di berbagai kota besar di Indonesia, sekitar 20 hingga 30 % remaja mengaku pernah melakukan hubungan seks bebas. Celakanya perilaku seks bebas tersebut berlanjut hingga menginjak ke jenjang perkawinan (doyan selingkuh maksudnya). Ini di mungkinkan karena longgarnya kontrolan orang tua pada mereka.

Pakar seks juga spesialis Obstetri dan Ginekologi Dr. Boyke Dian Nugraha di Jakarta mengungkapkan, dari tahun ke tahun data remaja yang melakukan hubungan seks bebas semakin meningkat. Dari sekitar 5 % pada tahun 1980, menjadi 20 % pada tahun 2000. Gunawan, (2011:52)

Data tersebut sejalan dengan survei Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) pada tahun 2010, 52 persen remaja Medan sudah melakukan seks bebas yang berdampak kepada terjangkitnya penyakit Infeksi Menular Seksual (IMS), (dikutif dari www.kompas.co.id diakses pada tanggal 20 Maret 2012). Ini artinya setiap tahunnya fenomena seks bebas atau perilaku sek pra-nikah yang dilakukan remaja terus mengalami peningkatan bahkan menambah korban penularan PMS (penyakit menular seks).

Perilaku seks bebas yang melanda remaja sering sekali menimbulkan kecemasan para orang tua, pendidik, pemerintah, para ulama dan lain-lain. Untuk itu, perlu dilakukan penanganan sedini mungkin untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan seperti aborsi. Aborsi adalah dampak paling berbahaya dari seks bebas, yang dari tahun ke tahun semakin banyak dilakukan remaja di indonesia Sebanyak 62,7% remaja SMP tidak perawan dan 21,2% remaja mengaku pernah aborsi.Perilaku seks bebas pada remaja tersebar di kota dan desa pada tingkat ekonomi kaya dan miskin.

Departemen kesehatan RI mencatat bahwa setiap tahunnya terjadi 700 ribu kasus aborsi pada remaja atau 30% dari total 2 juta kasus dimana sebagian besar dilakukan oleh dukun. Dari penelitian yang dilakukan PKBI tahun 2005 di 9 kota mengenai aborsi dengan 37.685 responden, 27% dilakukan oleh klien yang belum menikah dan biasanya sudah mengupayakan aborsi terlebih dahulu secara sendiri dengan meminum jamu khusus. Sementara 21,8% dilakukan oleh klien dengan kehamilan lanjut dan tidak dapat dilayani permintaan aborsinya.

Kalau dilihat-lihat, dibanding-banding, kok kayaknya lebih parah data akibat pergaulan bebas remaja, ya? Jadi kalo kita mau ngerem nikah dini, apa kita punya solusi buat persoalan gaul bebas dan kawan-kawannya?
 
Realitas berbicara, arus kebebasan sudah merajalela. Kebebasan ekspresi dan berpendapat, menguar, mencuci otak remaja. Filter diserahkan ke diri masing-masing.

Peran negara? Tukang nyalahin orangtua. Bikin kebijakan semena-mena. Minta dukungan sana sini supaya dapat dukungan untuk memberantas nikah dini. Tapi tidak bertanggungjawab membendung arus kebebasan. Tak memberi batasan jelas makna pornografi dan pornoaksi. Katanya sih takut melanggar HAM. Komitmen minimalis memblokir situs porno yang bikin narkolema. Belum lagi sistem pendidikan yang tidak mendewasakan remaja. Disuruh mikir studi terus biar cepat dapat kerja. Ujung-ujungnya, keluarga yang dituntut membentengi remaja.

Lah, berapa persen sih keluarga yang paham untuk membentengi anaknya dari pengaruh merusak? Dan seberapa kuat mereka membendung arus yang dibuka kerannya, justru oleh penguasa?

Geleng-geleng kepala saya.

Kembali ke data statistik kontra nikah dini tadi. Jika persentasi kemudharatan yang terjadi oleh nikah dini, toh, ternyata didominasi oleh faktor di luar usia, maka solusi seharusnya diarahkan ke sana.

So, dengan berbagai keruwetan ini, haruskah nikah dini diperdebatkan?

Pe-er ke depannya bagi yang terinspirasi (kayaknya saya, nih), kudu nyiapin anak sebaik-baiknya. Kalo anaknya perempuan, disiapin jadi calon ibu rumah tangga yang baik dan benar, upps, shalihah maksudnya. Nah, kalo laki-laki, siapin jadi imam rumah tangga yang shalih kayak Alvin. Plus satu lagi yang tak kalah penting, jadikan dia generasi teladan, pioner, perubah menuju peradaban gemilang.

#Eva, Kandangan, Kalsel, 7 agustus 2016

Rabu, 20 Juli 2016

Langkah Praktis Menulis via Blog Mulai dari Nol

Rekan-rekan semua, berikut akan saya paparkan bagaimana tips praktis membuat blog dengan blogger. Mari kita ikuti langkah-langkah berikut :

  1. Bagi yang belum punya email, masuk ke www.gmail.com
  2. Pilih Buat akun
  3.  Isi formulir pada tampilan berikut dan ikuti langkah sampai konfirmasi bahwa email sudah aktif.
  4.  Jika email sudah aktif, silahkan masuk ke www.blogger.com

  5. Klik Tambahkan Akun pada tampilan berikut :
  6. Setelah muncul tampilan di bawah ini, Masukkan email rekan-rekan semua, sebagai contoh saya masukkan email saya ary.smknkadipaten@gmail.com, klik berikutnya, lalu isikan password email rekan-rekan semua.
  7. Pilih Buat Profil Google+ lalu ikuti langkah selanjutnya (saya sarankan memakai identitas sesuai KTP, karena kita sedang membuat kartu nama di dunia maya). Sampai muncul seperti di bawah ini atau yang semisalnya (mungkin tampilan berbeda-beda tergantung lengkapnya langkah yang diambil). Lalu, pilih Lanjutkan ke Blogger
  8. Pilih Blog Baru pada tampilan berikut :
  9. Isi Judul, ini akan menjadi judul blog rekan-rekan semua. Misal saya isi judulnya Penulis Rajin Berbagi (Silahkan rekan-rekan cari judul yang menjadi kekhasan masing-masing).

  10. Kemudian isi alamat, usahakan yang mudah untuk dihapal oleh orang lain ya. Ini tidak mesti sama dengan judul blog. Tetapi karena saya buat contoh, saya bikin sama saja. Oh iya, alamat harus ditulis menyambung berupa huruf semua (tanpa spasi). Blogger akan memeriksa ketersediaan alamat, jika memang alamat kita belum pernah dipakai oleh orang lain, akan muncul Alamat blog ini tersedia. Dan pastinya di belakang alamat yang kita tuliskan akan ditambahi .blogspot.com atau blogspot.co.id. (Catt: ke depannya bisa kita ubah jika kita ganti domainnya). Kemudian pilih Template sesuai selera, saya memilih Sederhana.
  11. Tarik scroll ke bawah, pilih buat blog, lalu tunggu sebentar hingga tampilan layar seperti ini :
  12. Alhamdulillah...!!! Blog kita sudah jadi. Eits, tunggu dulu! mari kita klik Lihat Blog kok kosong seperti ini?
  13. Iya karena kita belum entri karya apapun. Mari kita klik Entri Baru di sudut kanan atas.  Hingga muncul tampilan berikut :
  14. Mari mulai berkarya! Kita isi Judul pos. Kemudian kita isi badan tulisan, untuk pertama bisa kita isi dengan Insert Image dengan meng-klik ikonnya.
  15. Kemudian Pilih File pada tampilan berikut :
  16.  Setelah gambar dipilih dan muncul tampilan berikut, yakni gambar yang kita pilih. Klik Add selected. 

  17. Maka kita akan kembali ke rancangan tulisan di blog kita. Mari kita isi tulisan, bisa juga kita copas dari tulisan yang ada di Ms Word.
  18. Kita klik Label. Kita isi sesuai dengan jenis tulisan kita, misal Artikel, Puisi, Cerpen dan sebagainya. Karena tulisan yang saya buat adalah Artikel, maka saya tulis Artikel.

  19. Lalu kita klik Simpan (jika masih draft) dan klik Publikasikan (jika sudah fix dan siap dipublikasikan).
    Catt : jika muncul seperti di bawah ini, ini adalah layanan Google+, maka tulisan kita pun bisa langsung di-share di Google+.
  20. Alhamdulillah, blog kita sudah terisi Artikel bermanfaat !
    Sebagai tambahan, jika rekan-rekan melihat tanda ikon ini hanya akan muncul jika kita masuk sebagai admin. Ikon itu merupakan salah satu fasilitas untuk mempermudah kita memperbaiki tampilan blog. 
     Rekan-rekan penulis semua, sekian dulu ya tips membuat blog dari saya. Untuk blog yang saya buat contoh barusan, bisa diakses di http://penulisrajinberbagi.blogspot.co.id/. Selamat berkarya! Semoga tulisan singkat ini dapat bermanfaat, serta bisa membantu untuk Personal Branding kita masing-masing. Aamiin. (Ary H. - Penulis Pendidik binaan Akademi Menulis Kreatif)

Selasa, 19 Juli 2016

Belajar dari Sang Juara

Sebenarnya saya sangat jarang menonton balapan Moto Grand Prix, atau Moto GP.  Saya juga lupa entah sudah berapa tahun tidak menontonnya. Yang pasti, sudah 2 tahunan tidak ada siaran televisi di rumah. Kebetulan saja sekarang saya sedang di rumah mertua, saya bisa menonton GP Jerman yang berlangsung di Sachsenring (17/7/2016). Balapan yang dimulai dalam kondisi trek basah semakin menghibur para penggemarnya.

Yang menarik dalam balapan tersebut adalah kegigihan Sang Juara, Marquez. Meskipun start di urutan yang pertama tidak menjadikannya mulus menjadi seorang juara. Bahkan pada saat trek uji coba saja, pembalap dari Tim Repsol Honda ini hampir mau terjatuh. Lap pertama pun ia langsung berada pada posisi ketiga. Pengemudi motor Honda RC213V ini pun ketinggalan posisi puncaknya selama 24 lap dari 25 lap balapan. Tidak hanya itu saja, pada lap ke-10 ia hampir saja celaka karena keluar dan hampir terjatuh di jalur pasir, untung saja ia masih bisa mengontrol laju motornya dan kembali ke treknya. Namun tentu hal itu harus dibayar mahal dengan menjadi urutan yang paling bontot. Akan tetapi, kepintaran strateginya masuk pit lebih awal mampu menjadi kuda troya bagi para pesaingnya yang terlena berbalap ria. Strategi inilah yang mengantarkan Sang Juara finish di posisi terdepan dengan waktu tercepat 47 m 3,239 detik, padahal ia hanya memimpin pada lap terakhir saja. 

Kegigihan Sang Juara inilah yang menarik bagi saya. Jika jalur yang telah kita pilih laksana trek balapan, tentu butuh ketetapan hati untuk terus berada dalam lintasan. Apapun yang terjadi, urutan ke berapa pun kita. Jika memang kita ingin sampai ke finish, tentu kita mesti terus bertahan di dalam lintasan. Dalam hidup ini, tidak sedikit orang yang memilih trek yang sama dengan kita, ia start lebih awal tetapi kemudian tertinggal. Atau bahkan hal tersebut menimpa kita sendiri. Kita belajar menulis lebih awal, tetapi ternyata orang lain yang menghasilkan karya terlebih dahulu. Kita duluan belajar bahasa Inggris, ternyata orang lain yang duluan bisa menerjemahkannya. Atau mungkin kita yang duluan belajar bisnis, orang lain yang duluan sukses. Berbagai kejadian tersebut bukanlah hal aneh dalam hidup ini. Tetapi apa yang dilakukan oleh para juara, tiada lain adalah konsisten untuk tetap berada dalam jalur. Meskipun harus menjalankan motornya secara lebih pelan karena trek yang basah, Marquez tetap pada jalurnya. Ia tidak menyerah meskipun harus tertinggal di urutan ke-6, bahkan hal itu ia manfaatkan untuk mengambil masuk pit lebih awal. Ia siapkan strategi dan energi untuk mampu melaju lebih kencang.

Sudah menjadi sunnatullah, tidak mesti orang yang memulai sesuatu lebih awal selalu berada pada posisi terbaik dan terdepan. Dalam menapaki jalur hidup ini, kita juga membutuhkan konsistensi dan komitmen. Syuhada pertama dalam peperangan kaum muslim, bukanlah orang yang pertama masuk Islam, beliau adalah Hamzah Sayyidusy-syuhada. Khalifah kedua, Amirul Mukminin Umar bin Al Khaththab r.a., bukanlah orang pertama masuk Islam. Bahkan pada saat masih jahil, beliau pernah berniat membunuh Nabi Muhammad Saw. Meskipun ada juga orang yang selalu menjadi terdepan dan terbaik seperti sosok Abu Bakar Ash-shiddiq r.a., beliau termasuk kelompok yang pertama masuk Islam, serta sahabat terbaik Rasulullah Saw. Ketiga sahabat ini start masuk Islamnya berbeda, tetapi konsistensi dan komitmen hidup di jalur Islamnya, sama sekali tidak diragukan.  

Jika kita sudah memilih trek ini, yakni menjadi seorang penulis. Mari untuk tetap konsisten dan komitmen untuk bertahan hingga sampai ke finish. Meskipun mungkin ada yang sampai lebih awal dibandingkan yang lain.

Analogi saya bukan berarti menghadirkan kompetisi di antara kita. Ada perbedaan yang nyata antara moto GP dan grup penulis. Jika moto GP terdiri dari berbagai tim yang saling bersaing, grup penulis merupakan satu tim yang saling berbagi. Sehingga yang sampai di finish lebih awal, akan siap berbagi trik kepada rekan yang ada di belakangnya. Sebagaimana persaingan para sahabat Rasulullah Saw. dalam ilmu dan amal.    

Pelajaran selanjutnya yang saya dapat dari Sang Juara moto GP Jerman kemarin. Godaan hidup mungkin bisa membuat kita terlempar keluar jalur. Tidak sedikit yang terjatuh kemudian menyerah. akan tetapi, Sang Juara selalu berusaha kembali ke jalurnya. Sebentar-sebentar mentok menulis itu biasa. Bahkan ketika saya sendirian, belum punya rekan berbagi seperti saat ini, saya sempat berhenti menulis sampai beberapa bulan. Alhamdulillah, saat ini banyak rekan untuk saling membantu dan berbagi. Inilah juga yang membuat saya untuk selalu kembali ke trek ini, trek untuk menjadi penulis hingga finish.

Ada lagi yang lebih menarik. Tertinggal posisi puncak selama 24 lap, bahkan sempat di posisi juru kunci, tidak membuat Marquez minder dan putus asa, ia terus berjuang menggeber motornya. Inilah mental seorang juara. Daripada maratapi posisinya yang tertinggal mending terus meningkatkan percepatan motornya, menyalip lawan-lawannya hingga menjadi yang terdepan. Mental juara inilah yang masti kita tiru. Jika kita main ke toko buku, banyak sekali para penulis yang sudah memiliki buku best seller. Coba bandingkan dengan kita, uiiih masih jauh deh kayaknya. Tetapi, daripada kita memikirkan posisi yang tertinggal, mending kita terus menggeber kemampuan menulis kita untuk bisa segera sampai ke finish, menjadi penulis best seller. Aamiiin.


(Ary H. Penulis Pendidik / 19-07-2016)

Kamis, 14 Juli 2016

Tugas Penulis

Menjadi penulis? Wah pengen banget tuh! Apalagi jika mampu menghasilkan karya-karya yang melegenda, tulisan-tulisan yang melintas jaman, cerpen-cerpen yang keren, opini-opini yang kaya solusi serta puisi-puisi yang membelai hati. Mantep banget ya, para penulis sepertinya mudah saja mengalirkan kata-katanya.

Berbagai karya yang dihasilkan para penulis tentu bukan tanpa proses. Ada beragam aktifitas yang menyertainya, atau kalau kita memasak tentu ada bahan dan bumbunya. Tetapi, semua itu tentu tetap bertumpu pada tugas utamanya, yaitu menulis.

Menulis, itulah tugas utama para penulis. Bukan mengedit apalagi mengkritik. Dijamin ga maju-maju deh kalau kita mencoba menulis sambil mngedit dan mengkritik. Bisa-bisa belum satu paragrap tertuliskan, sudah bingung duluan menulis dan menghapus susunan kalimat. Iya kan? Syukur alhamdulillah jika tidak, berarti teman-teman sudah selangkah lebih maju daripada saya. Kalau saya sendiri, benar-benar mengalami kebingungan menyusun kata atau cerita. Karena seringkali sambil mengedit dan mengritik. Baru nulis satu kalimat, sudah dinilai sendiri kemudian diedit sendiri. Begitulah yang saya alami.

Kok saya tetap tidak bisa ya, tetap saja ingin mengedit dan menganalisa tulisan sendiri. Iya tentu itu tetap harus dilakukan, jika kita ingin menghasilkan tulisan terbaik yang akan kita persembahkan. Namun tentu ada tekniknya. Untuk para penulis pemula, sebaiknya menulislah sebebas-bebasnya terlebih dahulu. Karena memang tugas para penulis adalah menulis. Nah, jika kita ingin mengedit dan menilainya, endapkanlah dulu tulisan kira dalam beberapa saat, bisa satu atau dua hari. Setelah diendapkan, barulah tulisan dibaca dan diedit kembali, diperindah dan diperhalus.

Itulah tugas utama para penulis, yaitu menulis bukan yang lain. Selanjutnya, ada tugas tambahan yang membantu para penulis memperkaya dirinya. Apa sajakah itu? Tugas tambahan itu antara lain adalah membaca, mencatat kosa kata baru, mengupdate berita serta menikmati karya-karya masterpiece sastrawan dan jangan lupa pula untuk rekreasi ke lokasi yang menenangkan. Jika tugas utama dan tambahan tersebut dijalankan secara rutin, insyaAllah kita bisa menjadi seorang penulis. Selamat mencoba!

(Ary H. - Pendidik, Penulis, Blogger dan Online reseller)

Urgensi Mindmapping bagi Penulis

Bagi seorang profesional, munculnya ide-ide yang terus mengalir dari pikiran sangatlah dibutuhkan. Tak terkecuali bagi seorang penulis. Bila ide mengalir deras dari pikiran, tulisan pun menjadi lancar tanpa macet. Begitupun sebaliknya, bila tanpa ide-ide baru, tulisan pun akan sulit dikembangkan. Baik menulis puisi, cerpen, artikel, novel, apalagi buku yang berbab-bab bahkan berjilid-jilid.

Sebagai penulis pemula, saya pun sering merasakan kebuntuan ide. Menurut saya sih itu merupakan sesuatu yang wajar. Karena saya yakin, kendala tersebut pasti sering melanda para penulis. Jangankan untuk seorang penulis pemula, para penulis mahir pun pasti pernah merasakannya.

Ide itu terlahir dari sebuah proses berpikir. Sedangkan proses berpikir adalah pencerapan objek oleh indera yang diteruskan ke otak, lalu otak menafsirkan objek tersebut berdasarkan informasi sebelumnya (yang tersimpan di otak. Atau dengan kata lain, tahkim (penghukuman) suatu objek/fakta oleh otak berdasarkan informasi sebelumnya. Karena itulah, lahirnya sebuah ide berhubungan dengan input informasi ke otak dan output informasi dari otak.

Secara input informasi, kebuntuan ide yang dialami para penulis, bisa diurai dengan aktifitas banyak membaca. Bagaikan teko, semakin banyak diisi air maka akan semakin banyak isinya. Potensi kuantitas mengalirnya pun akan semakin besar. Membaca yang serius (deep reading) akan memperbanyak ide secara optimal. Selain itu, banyak menyimak, melakukan, mendengar dan melihat berbagai hal yang bermanfaat dapat memperkaya informasi ke dalam otak. Karena, informasi bisa dicerap oleh otak melalui berbagai alat indera. Namun, hal ini baru terkait input informasi ke dalam otak.

Adapun terkait dengan kelancaran output ide, hal itu bisa dilatih dengan fastwriting dan mindmapping. Terkait fastwriting, saya telah menjelaskannya dalam tulisan sebelumnya. Bila fastwriting bisa membantu melancarkan aliran ide, maka mindmapping bisa membantu memunculkan ide-ide baru yang lebih kreatif.

Berdasarkan pengalaman saya belajar di Akademi Menulis Kreatif binaan Master Apu Indragiry, mindmapping adalah latihan menghubung-hubungkan suatu ide dengan ide-ide yang lain, sebanyak-banyaknya. Mindmapping bisa dilakukan kapan saja dan di mana saja, karena ia hanya membutuhkan kertas kosong, alat tulis dan stopwatch. Langkah pertama, tentukan ide pertama (berupa sebuah kata). Kita tuliskan kata tersebut di tengah kertas, lalu lingkarilah. Misalnya, kita menuliskan kata "Pasar". Setelah itu, carilah kata-kata lain yang berhubungan dengan pasar, lalu lingkarilah kembali dan hubungkanlah kata-kata tersebut dengan sebuah garis. Misal, kita menemukan.kata "burung", "induk", "buah", "baru", "lama" dan sebagainya. Buatlah kata-kata itu sebagai cabang-cabang dari kata "pasar". Selanjutnya, buatlah kembali cabang-cabang dari kata, "burung", "induk", "buah", "baru", "lama" dan sebagainya sampai kertas penuh. Setelah mencoba, lakukanlah mindmapping dengan target waktu tertentu.

Mindmapping bukanlah membuat outline (kerangka) tulisan. Ia tidak berhubungan langsung dengan lahirnya sebuah karya tulisan. Mindmapping merupakan latihan berpikir kreatif. Dengan mindmapping, kita akan berusaha menghasilkan cabang-cabang ide yang baru. Dari sinilah, kreatifitas kita akan terlatih. Sehingga, output aliran ide-ide baru akan mengalir deras dari benak kita.

Lalu, hasil karya apa yang dihasilkan dari mindmapping? Hasil karya mindmapping adalah mindmapping itu sendiri, bukan yang lain. Kita tidak usah menjadikannya sebagai kerangka tulisan, karena idenya 'liar'' dan tidak sistemik. Tetapi, bukan berarti karenanya menjadi tidak berguna. Justru ide yang 'liar' inilah yang akan membantu para penulis untuk memecahkan kebuntuan ide. Termasuk dalam membuat kerangka tulisan, memperkaya bahasa, mendramatisasi konflik sebuah cerpen, memperdalam analisa sebuah artikel, atau memperkaya kajian dalam penulisan sebuah buku. Selamat mencoba.

(Ary Herawan, siswa Akademi Menulis Kreatif binaan Master Apu Indragiry/2-12-2015).

Fastwriting; Belajar Menulis dari Nol

Menulis itu mudah. Buktinya, hampir setiap orang pernah menulis. Ada yang menulis surat, diary, status di sosial media, perjanjian, atau menulis rangkuman pelajaran. Semua itu menjadi bukti bahwa menulis itu mudah.
Tetapi mengapa masih ada yang merasa susah menulis. Semua itu hanya karena susah mengungkapkan. Banyak ide di benak, tetapi macet untuk dituliskan. Inilah biasanya yang menjadi hambatan bagi seseorang yang mau membiasakan menulis (menjadi seorang penulis).

Ada suatu materi yang sangat berharga. Materi yang bisa memecah kebuntuan dalam menulis. Saya dapatkan materi itu dari Akademi Menulis Kreatif binaan Master Apu Indragiry. Materi tersebut adalah fastwriting.
Bagaikan belajar sepeda motor, kita perlu belajar memindahkan gigi secara berurutan, dan itu terus kita lakukan secara berulang-ulang. Meskipun, ketika kita sudah mahir naik motor, kita seringkali oper gigi begitu saja. Bahkan kita tidak ingat, berapa kali kita oper gigi jika naik motor kemudian pergi belanja ke pasar. Semua itu karena kita sudah mahir. Tetapi, pentingkah belajar oper gigi bagi pengemudi sepeda motor? Tentu harus. Begitu pula dengan fastwriting.

Fastwriting adalah menulis suatu tema dalam waktu yang ditentukan, dengan kalimat sebanyak-banyaknya, tanpa coretan dan editan. Kurang lebih, begitulah yang saya pahami dari apa yang diajarkan oleh Master Apu. Misal, kita mau fastwriting tema Hari Guru dalam waktu 5 menit. Kita siapkan alat tulis, buku dan timer (bisa menggunakan stopwatch di HP). Nyalakan timer, kemudian kita tulis apapun yang ada di benak terkait tema Hari Guru. Pas waktu habis, berhentilah menulis. Begitulah teknis fastwriting.
Untuk permulaan, kita bisa memulai dari tema-tema sederhana, semisal air, banjir, kemarau atau yang semisalnya. Karena biasanya, setiap orang sudah memiliki banyak informasi di benaknya tentang tema-tema tersebut.

Fastwriting terus dilatih setiap hari, di waktu yang kita luangkan secara rutin. InsyaAllah, lama kelamaan problem kebuntuan dalam menulis akan terpecahkan.

Lalu, bagaimana bagi penulis yang sudah mahir? InsyaAllah fastwriting tetap akan bermanfaat. Master Apu mengingatkan bahwa pembalap moto GP dunia, seperti Lorenzo, masih memerlukan latihan. Begitu pula permisalan manfaat fastwriting bagi para penulis yang sudah mahir.
Akhir kata, selamat mencoba fastwriting !

(sumber : www.aryherawan.blogspot.com/26-11-2015)

Menulis; Perjuangan dan Dakwah

Ini pertama kali saya menulis dengan menggunakan laptop axioo jadul yang sudah tersimpan lama di lemari. Ya, daripada terus rebutan netbook acer aspire one dengan anak dan istri, nanti ide-ide saya tidak tercurahkan, alias terpendam saja tanpa ada yang mengetahuinya.

Setelah hampir sepekan tidak menulis, saya berusaha merefresh lagi, dan merenungkan kembali mengenai apa yang menjadi motivasi saya menulis. Dua buah buku yang saya baca selama 4 hari kemarin, mengingatkan saya akan tujuan aktifitas menulis. Buku pertama “Membongkar Aib Seks Bebas & Hedonisme Kaum Selebriti” tulisan Sdra Nurani Soyomukti dan buku kedua “Juara Sepanjang Masa” tulisan sdri Afifah Afra. Apabila kita membaca judulnya saja, dua buku tersebut memang seolah tidak ada hubungannya dengan aktifitas menulis. Apalagi buku yang pertama, di dalamnya syarat dengan pemikiran-pemikiran sosialis marxisme. Sedangkan buku kedua ditulis untuk kalangan remaja, padahal saya kan sudah bapak-bapak. Dua penulis buku tersebut, telah mengingatkan saya bahwa aktifitas menulis adalah aktifitas perjuangan.

Motivasi menulis yang utama bukanlah semata-mata untuk mendapatkan selembar rupiah. Menulis adalah sama dengan aktifitas bicara, namun bedanya bila bicara dilakukan dengan lisan. Sedangkan menulis adalah bicara lewat tulisan. Pernahkah terpikir dalam benak kita, bahwa setiap kali kita berbicara dengan orang, kita berharap mendapatkan rupiah dari apa yang kita bicarakan. Tentu tidak, karena tujuan kita berbicara adalah supaya orang memahami apa yang kita sampaikan. Atau dengan kata lain, bicara adalah aktifitas penyampaian ide atau gagasan. Begitu pula sebetulnya dengan aktifitas menulis. Menulis adalah sebuah penyampaian ide atau gagasan melalui tulisan.

Sebuah tulisan akan menggambarkan apa yang ada dalam pikiran Sang Penulis. Sehingga, sebuah tulisan akan menggambarkan seperti apa penulisnya. Bila ia hanya seorang pendongeng, maka tentunya tulisannya pun seputar dongeng. Begitu pun bila ia seorang aktifis gerakan, tulisannya penuh dengan heroisme perjuangan, baik aktifis sosialis, liberalis maupun Islam.

Perenungan ini telah yang mengantarkan saya pada motivasi awal menekuni dunia menulis. Saya ingin memperjuangkan ide-ide Islam yang saya yakini dan berkontribusi dalam proses penyadaran umat. Saya merenung, ide-ide Sosialis-Marxis saja bisa dicerna oleh umat bila itu dituangkan dalam tulisan. Ia terus awet dalam bentuk bacaan dan tersebar di seluruh penjuru negeri, bahkan dunia. Ditambah lagi bila penulisnya memiliki suatu landasan ideologis. Sehingga kepuasannya terletak pada tersebarnya ide-ide dan pemikirannya di tengah rakyat, lalu rakyat terprovokasi untuk bangkit melawan kapitalisme kaum borjuis. Saya berpikir kembali, mengapa dalam tiga hari ini saya seolah-olah kehilangan motivasi dalam menulis.

Perenungan ini juga telah mengingatkan saya pada bukunya Syaikh Muhammad Ismail yang berjudul Al Fikru Al Islami (Bunga Rampai Pemikiran Islam, ed.terj.). Kurang lebih beliau menegaskan bahwa dorongan aktifitas manusia terdiri dari tiga jenis, yaitu dorongan materi (quwwah madiyah), dorongan moral (quwwah ma'nawiyah) dan dorongan spiritual (quwwah ruhiyah). Dorongan materi akan membuat manusia beraktifitas karena ada sokongan materi, bila sokongan materi tak ada maka aktifitasnya pun melemah. Dorongan moral akan membuat manusia beraktifitas karena adanya pujian manusia, bila pujian itu tak ada maka aktifitasnya pun melempem. Namun dengan dorongan spiritual, manusia akan selalu beraktifitas berdasarkan kesadarannya akan hubungan dengan Allah SWT.  Maka dorongan spiritual-lah yang selayaknya dijadikan sebagai pendorong hakiki dalam beraktifitas. Karena ia tak mengandalkan sokongan materi dan pujian. Ia akan selalu ada selama seorang hamba menyadari bahwa dirinya adalah makhluk Sang Kholik yang harus selalu taat kepadaNya.

Perenungan ini juga telah mengingatkan saya kepada seorang guru sekaligus sahabat di Yogyakarta. Tidak perlu saya menyebutkan namanya, tapi saya berharap semoga beliau membaca tulisan ini. Kata-katanya yang selalu terngiang-ngiang sampai saat ini adalah “Maknailah setiap aktifitas kita! Karena kadang kita terjebak pada rutinitas, akhirnya kita jenuh disebabkan kita lupa apa makna dari aktifitas kita”. Karena itulah memaknai setiap aktifitas, termasuk menulis,  sangatlah penting. Maka ia akan menjaga semangatnya, dan pemaknaan yang paling ideal bagi seorang muslim adalah aktifitas ibadah (penghambaan diri kepada Allah SWT dengan menta’atinya). Sehingga menulis adalah ibadah, menulis adalah aktifitas perjuangan, menulis adalah aktifitas penyadaran dan dakwah.

Terakhir, sekecil apapun kemampuan menulis kita pada awalnya. Semoga kita bisa terus mengasahnya dengan satu motivasi, yaitu dakwah. Sehingga tulisan-tulisan kita bisa menjadi katalisator reaksi penyadaran umat akan ide-ide Islam. Aamiiin. Wallohu a’lamu bishshowwaab.


*) Ditulis oleh Ary Herawan  (tulisan pernah dimuat di www.islampos.com) 

Menumbuhkan Cinta Menulis


Mencintai pekerjaan adalah sesuatu hal yang sangat penting, begitulah pandangan keumuman kita. Bahkan, keahlian seseorang seringkali dihubungkan dengan kecintaannya pada suatu pekerjaan. Mencintai terlebih dulu pekerjaannya, barulah ada garansi untuk menjadi ahli karenanya.
Dunia menulis pun tak luput dari pandangan tersebut. Untuk menjadi penulis, biasanya kita menghubungkannya dengan kecintaan seseorang terhadap aktifitas menulis. Misal, ketika seseorang suka menulis sedari kecil, disimpulkanlah bahwa ia berbakat menjadi seorang penulis. Benarkah mesti demikian adanya?
Penulis tidak membantah adanya kesukaan seseorang terhadap menulis sedari kecil. Mungkin memang benar demikian adanya. Penulis pun tak menampik bahwa mencintai menulis adalah sesuatu yang penting. Karena, cinta menulis akan membuat kita enjoy bersamanya. Namun, penulis kurang setuju jika cinta menulis merupakan bakat bawaan sedari lahir. Sehingga, ia tak bisa disemai dan ditumbuhkan.
Ada dua hal pokok yang bisa menumbuhkan cinta menulis. Yang pertama, cinta menulis bisa disemai dari motivasi utama. Seorang penulis dan penyair muda, Apu Indragiry, sering menekankan pentingnya “AMBAK” bagi seorang penulis. “AMBAK” adalah akronim dari “Apa manfaatnya bagiku?” (“Apa manfaat menulis bagiku?” , pen.). “AMBAK” akan menjadi motivasi utama bagi seorang penulis. Karena fitrah naluriah manusia, mencintai setiap apa yang bermanfaat baginya. Karena itulah, jika kita ingin mencintai menulis maka kita mesti menemukan “AMBAK” kita. “AMBAK” bisa dituliskan, lalu ditempelkan di tempat yang sering kita lihat. Dan yang lebih utama adalah simpan “AMBAK” itu di dalam pikiran dan hati kita, lalu kita zoom hal itu setiap saat. 
Adapun yang kedua, penulis teringat akan sebuah pepatah Jawa “Tresno jalaran soko kulino”, yang artinya “cinta muncul karena sering bertemu.” Bila kita cermati pepatah ini, cinta memang sering muncul dari tingginya kuantitas pertemuan. Sehingga, jika kita ingin mencintai menulis, kita harus sering ‘bertemu’ dengannya. Misal, kita buat program rutin “menulis apapun setiap hari” selama 30 menit. Tanpa perlu berpikir teori dan struktur kalimat, pokoknya menulis apapun. Bisa berupa puisi, cerpen, pengalaman pribadi atau artikel dan opini, pokoknya apapun yang mengharuskan kita untuk menulis. Sarana menulis yang dipakai pun bebas kita pilih, bisa dengan pulpen, HP ataupun netbook. Yang penting bagi kita adalah ‘bertemu’ dengan menulis.

Dengan program rutin “menulis apapun setiap hari”, kita akan diharuskan menulis. Somerset Maugham menegaskan, “We do not write because we want to; we write because we have to.” (Kita tidak menulis karena kita ingin menulis; kita menulis karena kita harus menulis!). (Much. Khoiri, 2014).
InsyaAllah, dua hal pokok tersebut akan menumbuhkan cinta menulis. Ketika cinta menulis telah tumbuh, menjadi penulis profesional pun akan selangkah lebih mudah. Semoga. #Yuk Menulis.

(Ary Herawan, Penulis adalah Guru SMKN Kadipaten Kabupaten Tasikmalaya)