Selasa, 28 Maret 2017
Bukan Motivasi
Kamis, 29 September 2016
Minder Nulis? No Way
Minder Nulis? No Way
Aku suka nulis. Kalau lagi mood, tahan berjam-jam. Tapi nulisnya di buku diari aja. Eh, diariku isinya nggak melulu curhat yang sedih-sedih, loh. Aku suka nulis apa aja. Tulis semua yang dilihat, didengar dan dirasakan. Waktu sekolah dulu, semua teman kucermati. Tingkah polah mereka diceritain satu-satu di buku diari. Wah, lucu-lucu. Pas dibaca ulang, jadi geli dan ketawa sendiri. Heboh, ya, kelakuan mereka.
Sayangnya ini hobi cuma buat diri sendiri. Gak pede dipamerin. Apalagi dipost ke media. Wuaa, nggak lah. Maklumlah, saat itu, yang jadi trend 'kan hobi semacam karate, silat, basket, PMR, Pramuka, KSI, Paskibra, dan KIR. Mana ada temenku yang ngelirik hobi beginian? Nulis cuma bikin bete, cape, nggak level. Itu komentar mereka. Kalo pengen gaul, hobinya kudu gaul juga. Maka jadilah kuikut semua ekskul, sambil diam-diam tetap nulis dengan mindernya.
Pas kuliah, aku tetap nulis. Ah, ternyata di kampus juga susah nyari yang punya hobi sama. Kemana harus kutemukan teman yang kesukaannya sejalur denganku? Haus ilmu nulis dan sharing, tapi oasenya nggak ada. Keringlah diriku ini.
Kesibukan kuliah, membuatku terpaksa mengabaikan diari. Tapi tak mengapa. Masih tersalur buat nulis laporan dan skripsi. Selamatlah. Hobiku terdegradasi.
Tatkala jadi emak-emak, lah, kok, malah lupa nulis. Sibuk ngurus rumah, anak, suami, ini itu. Aktivitas nulis-nulis kayaknya nggak penting lagi. Pergaulanku berkutat di seputar ibu-ibu yang suka musingin kelakuan anak-anak, TDL naik, harga sembako mahal, terus besok masak apa .... halah, wes lah, nulis itu udah gak perlu lagi. Buang waktu ajah.
Bertahun-tahun kemudian. Pada suatu waktu. Dalam perjalanan naik angkot, sepulang acara pengajian di luar kota, kebetulan aku bareng seorang kenalan dari kota yang bertetangga dengan kotaku. Eh, tak dinyana, ternyata dia suka nulis.
Untuk pertama kali dalam hidup, akhirnya aku berjumpa dengan orang yang sehobi. Surprise. Serasa melayang-layang di awan kesenangan. Wih, perjalanan empat jam nggak kerasa. Sepanjang jalan ngobrol tentang dunia penulisan.
Begitu sampai, usai menunaikan amanah di rumah, aku langsung ambil hape. Ngetik di situ sampai dua jam. Rasanya puas.
Tetiba, aku tersadar. Hati ini tergerak kembali menulis kala berjumpa dengan orang-orang dengan kesukaan yang sama. Tak sekedar itu. Aku juga terdorong menyelam lebih dalam di samudera ilmu penulisan ini.
Baiklah. Sudah saatnya jari jemari ini dilenturkan, agar luwes memainkan kata dan menarikan tulisan. Namun sejuta pesimis menghujani. Aku butuh motivasi.
Beruntung pada suatu waktu, mataku tertumbuk pada share seorang teman di akun fesbuk. Ajakan bergabung dalam grup Akademi Menulis Kreatif.
Ini yang namanya pucuk dicinta ulam tiba. Aku terpukau melihat banyaknya penulis di grup itu. It's so amazing. Ternyata, aku tak sendiri, kawan :). Kau tau? Ternyata semangat dan kualitas lebih terpacu jika kau beredar di antara orang-orang dengan passion sama sepertimu.
Yup, yup. Tak lama aku gabung di grup itu, fastwriting dan mindmapping meningkat pesat. Pernah kubuktikan sendiri. Bikin novel dalam dua minggu. Meski pas proses editing tepar 😂😂😂.
Minderku juga kabur. Senangnya.
Sekarang, saatnya aku berbagi. Kamu tertarik? :) Full smile :D
Ketik aja yah.
Eva_namakamu_JoinAMK_email
Kirim ke WA 0819-5916-1610
#JadilahSahabatAMK
#AkademiMenulisKreatif
GRATIS LOH :D
#Eva, Kandangan, Kalsel 29.09.2016
Curhat Siswa Akademi Menulis Kreatif (AMK)
Mencurahkan isi hati di sosmed, kesannya kok lebay amat sih. Sedih dikit curhat di sosmed, bingung dikit tulis di sosmed, marah dikit tulis di sosmed. Kalau sedang senang, pamer juga di sosmed. Apalagi kalau banyak yang like, makin semangat deh curhatnya.
Memang tak selamanya isi hati yang dicurahkan itu hal-hal yang bersifat negatif. Tak selamanya juga kesenangan itu untuk dipamerkan. Bisa jadi kebahagiaan yang disampaikan di sosmed bertujuan untuk menginspirasi dan berbagi kebaikan dengan orang lain. Jika demikian adanya, kenapa tidak? Bukankah Allah Swt berfirman, yang artinya:
"Dan apa-apa yang berkenaan dengan nikmat Tuhanmu, maka ceritakanlah" (TQS. Adl-Dluha: 11)
Jika saya boleh sedikit curhat. Sedari lama saya berkeinginan untuk bisa menulis. Melihat tulisan-tulisan orang di majalah dan koran, sepertinya mudah sekali, semudah membacanya. Tetapi keinginan tersebut tinggallah keinginan, artikel pertama saya pada tahun 2000 untuk majalah kampus pun langsung ditolak redaktur. Bahasanya terlalu kaku dan normatif katanya. Ya sudahlah, keinginan itu akhirnya lama terpendam.
Saya mencoba menulis kembali pada tahun 2005-an. Kolom opini di sebuah media lokal, itulah target utama saya. Namun jangankan satu paragrap, satu kalimat pertama pun saya hapus berkali-kali. Walhasil, setelah beberapa kali memaksakan diri, jadilah beberapa halaman tulisan opini. Dengan percaya diri, saya antar sendiri file dan hardcopy tulisan itu ke media yang ditargetkan. Hasilnya? Alhamdulillah masih ditolak.
Ada kebahagiaan tersendiri saat ditolak redaktur media lokal yang saya temui. Karena redaktur opini yang saya temui bukan sekedar menolak, tetapi dengan baik hati beliau mengajarkan saya tentang tata cara membuat tulisan opini yang layak muat. Beliau berikan banyak masukan kepada saya pribadi. Sayang sekali, karena sudah sangat lama dan interaksinya terbatas, saya lupa nama beliau. Mudah-mudahan beliau membaca tulisan ini.
Setelah diberi banyak masukan, saya pun mengedit tulisan saya kembali. Banyak yang saya perbaiki sesuai masukan dan arahan Sang Redaktur. Alhamdulillah setelah selesai, tulisan tersebut tayang juga di sebuah media cetak lokal. Meskipun setelah diedit kembali oleh redaktur. Saya terus menulis dalam beberapa bulan kemudian, hingga akhirnya vaccum. Ada kejenuhan tatkala saya menulis dalam kesendirian.
Pada tahun 2014, mulailah saya menulis kembali. Artikel dan opini saya mulai mengisi beberapa media cetak dan daring. Namun, kejenuhan itu akhirnya tetap mendera. Kalau kata para penulis mayor, saya terkena writers block. Semacam penyakit yang membuat para penulis kehilangan ide tulisan. Saya pun sempat diam dalam beberapa bulan. Hingga dipertemukan kembali dengan seorang guru dan sahabat, beliau adalah Apu Indragiry, seorang penyair dan juga perintis Akademi Menulis. Beliaulah yang memasukkan saya ke dalam grup komunitas Akademi Menulis Kreatif (AMK), di WA dan di Telegram.
Sebagaimana yang pernah diumpamakan oleh Rasulullah Saw tentang pengaruh teman. Jika kita dekat dengan seorang pandai besi, minimal kita akan terkena percikan apinya. Begitu pula jika kita dekat dengan penjual minyak wangi, minimal kita akan teroles wanginya. Saat kita berkeinginan menjadi seorang penulis, bergaul dengan sesama penulis, tentu pilihan yang tepat. InsyaAllah kemampuan menulis kita akan terus terjaga dan terlatih.
Di kelas online Akademi Menulis Kreatif pula saya mulai belajar menulis puisi dan cerpen. Alhamdulillah selama bergabung di grup AMK, saya bisa menuntaskan 2 Buku Antologi, 1 buku kumpulan puisi dan cerpen serta 1 buku yang saya beri judul Menulis Perjuangan dan Dakwah.
Via WA dan Telegram, aktifitas diskusi di grup AMK menjadi lebih bebas, tidak terikat waktu dan tempat. Tentu di antara teman-teman ada yang bertanya. Dengan berbagai manfaat yang diterima, berapakah biaya untuk gabung grup WA dan Telegram AMK? Biayanya adalah waktu, ketekunan dan keseriusan. Mau konsultasi dan diskusi seputar menulis serta ikut kelas menulis online mingguan, semuanya tidak dipungut biaya sepeser pun. Hanya paket data, selain itu gratisss.
Oleh karena itu, bagi Anda yang sedang belajar menulis, atau ingin menjadi penulis. Bisa gabung AMK dengan mengetik format berikut:
aryh_namaanda_joinAMK_email
lalu kirim ke 0819-5916-1610
Terima kasih sudah membaca curhatan saya. Semoga bermanfaat. Aamiiin.
Ary H.
#JadilahSahabatAMK
#AAkademiMenulisKreatif
Kamis, 04 Agustus 2016
Kutulis Sang Mantan di Atas Bis
Merasakan dikejar-kejar deadline, itung-itung merasakan gaya hidup para penulis terkenal. Deadline pengumpulan sayembara antologi cerpen di Akademi Menulis Kreatif tinggal menghitung hari, yaitu 2 Agustus 2016 jam 24.00 Wib. Padahal saat aku tertidur dalam lelapnya malam, waktu terus berlalu. Hingga saat aku terbangun menjelang shubuh, sudah berpijak pada Selasa tanggal 26 Juli 2016.
Kepala penuh dengan target pribadi dan kerjaan. Ingin menyelesaikan buku perdana, Menulis Perjuangan dan Dakwah (MPD) sebelum Idul Adha, akreditasi di dua sekolah yang berbeda, persiapan mengajar di tahun pelajaran yang baru, serta jarak sekolah yang membutuhkan waktu tempuh sekitar 40 menit dengan sepeda motor. Tapi, berhubung sepeda motor lama sudah terjual, yang baru pun belum ada, terpaksa harus naik bis dengan waktu tempuh 1 jam 15 menit.
Ide-ide terus berkelebat liar di kepala. Rekan-rekan penulis pada curhat terkait deadline yang tinggal menghitung hari, padahal masalah yang sama pula aku hadapi. Tetapi, sempat terpikir juga mengeluarkan cerpen cadangan untuk mengejar deadline. Cerpen “Maafkan Aku Sahabat!” yang telah diupload di blog goresanpenaamk.blogspot.com, itulah cerpen cadanganku untuk sayembara antologi cerpen #2 di AMK. Namun supaya tetap semangat, kuanggap cerpen itu tak ada di folder cerpenku.
Bis AC Ekonomi Tasik-Lebak Bulus, itulah bis yang biasa aku tumpangi untuk sampai ke sekolah. Sekolahku terletak di ujung utara Kab. Tasikmalaya. Aku memilih bis tersebut karena ongkosnya tidak terlalu mahal serta tempat duduk yang nyaman. Tak perlulah aku menuliskan nama PO-nya, ntar disangka iklan.
Orang kepepet biasanya menjadi kreatif, memang begitulah adanya. Tiba-tiba terpikir di kepalaku untuk menulis di atas bis, seraya mengisi aktifitas selama perjalanan. Awalnya sempat ragu, karena beberapa kali aku mencoba mengisi aktifitas di atas bus dengan membaca, kepalaku langsung pusing. Aku pun mencobanya tidak hanya sekali, serta dengan bacaan yang berbeda-beda. Tapi, tetap saja, tidak sampai satu halaman, pusing sudah mendera.
Akhirnya kucoba membuka netbook kecilku. Kubuka file draft buku MPD dan draft cerpen Sang Mantan. Kalimat demi kalimat aku tuliskan untuk menyusun paragrap. Paragrap demi paragrap aku tuliskan untuk mengisi setiap halaman yang kosong di Ms. Word. Tak terasa, satu jam berlalu. Alhamdulillah, tak ada pusing mendera sedikit pun. Tiga halaman kuarto penuh aku tuliskan selama 1 jam, bahkan sudah mau masuk halaman ke-empat. Kondisi bis yang kosong dan luang sangat mendukung. Di antara tatapan kaca bis yang bersih, serta kelebat kendaraan yang berpapasan, ada kebebasan menangkap setiap ide yang lewat.
Alhamdulillah, Sang Mantan pun bisa dilanjutkan beberapa halaman. Begitu pun ide-ide untuk mengisi draft buku MPD pun bisa dituangkan. Ternyata, menulis bisa di mana saja.
Bisa di sela-sela pekerjaan, seperti saat ini. Bisa juga di antara tangisan anak-anak, atau di antara deru dan debu jalanan. Bahkan bisa juga di sela-sela jemput istri dan anak. Ah, tentu tak perlu muluk-muluk. Tulisan ringan seperti ini saja mungkin dapat bermanfaat dan diambil
pelajarannya. aamiiin.
(Ary H.- 5/8/2016. Curhat Fastwriting, menjelang berangkat perjalanan dinas)