Kamis, 11 Agustus 2016

"Membenci untuk Merindukan"

Aku membenci kelupaan
Untuk mengingatkan masa kegemilangan

Aku membenci ketakutan
Untuk merengkuhkan batang kesahajaan

Aku membenci keterpurukan
Untuk meletakkan hisab keadilan

Aku membenci keterjajahan
Untuk membaharukan pesan kebangkitan

Aku membenci kesombongan
Untuk membelakan syariat kerahmatan

Aku membenci keangkuhan
Untuk merindukan diterapkan keagungan

Nor Aniyah
Kandangan (KalSel), 11/08/2016

Selasa, 09 Agustus 2016

"Saudara yang Istimewa"

Seuntai canda waktu rehat
Memboncengi obat resah
Karenamu aku mampu sederhana

Saat aku mematut cermin
Berkaca mendapati bayanganmu
Ada bukti mirip pembelahan yang adil

Kenangan jernih masa bagian itu
Dulu kita satu di sebuah dinding
Menghimpun suasana kepingan sel kecil

Kita tak selalu berdekatan
Namun tak pernah merasa berjauhan
Ada janji layaknya pengikat jiwa kita

Kita menguatkan keyakinan
Pokok cita menggantung asa
Kita sanggup mengarungi hamparan dunia

Interaksi masa ada suka ada amarah
Aspek yang diidentikkan sebagai berdua
Ciri beda pengaruh fitrah tiada memisahkan

Kita tertawa bermain melepas duka
Kadang menutup sempurna bertangisan
Kita pun saling memberi dukung selaras mimpi

Saudaraku yang istimewa
Ikatan denganmu membesarkan kesamaan
Kita adalah pengibar bendera generasi terbaik

Nor Aniyah
Kandangan (KalSel), 09/08/2016

"Tugas Kata Hubung"

Kala memulai masalah ucapan
Dan kau tercengang memikirkan
Lalu berkecamuklah perang perasaan
Untuk mencari cercah kilauan
Menemukan hilang dalamnya peradaban
Itulah tugas yang tengah dilupakan
Akhirnya, kita sadar membangunkan
Membina kembali hubungan keumatan

Nor Aniyah
Kandangan (KalSel), 08/08/2016

"Kau Masih Mengingatku"

Aku senang
Kau masih mengingatku

Mengungkapkan dalam kenang
Dalam serangkuman mengenaliku

Di antara tajuk rindang
Aku masih terlihat olehmu

Aku pun ingin sama mengulang
Mendoakan curahan kebaikan untukmu

Nor Aniyah
Kandangan (KalSel), 07/08/2016

"Serius"

Dinding penuh tempelan
Merasa kehebatan jiwa
Santai tapi tetap terarah

Kutepati capaian tugas ini serius
Mencetus tuang bara juang
Menuliskan hingga titik terakhir

Dengan penuh aku percaya
Mimpi itu akan terpimpin
Menuju rintisan perwujudan

Nor Aniyah
Kandangan, (KalSel), 06/08/2016

Minggu, 07 Agustus 2016

Agar Buku Tak Sekedar Jadi Koleksi

sumber gambar : bruziati.files.wordpress.com


Membeli buku tetapi tak dibaca, duh sayang sekali jadinya. Bisa jadi karena semangat membeli buku belum sebanding dengan semangat membacanya. Sehingga buku yang dibeli hanya sekedar menjadi koleksi. Buku di rak tertata rapih, indah dipandang namun tidak terjamah. Padahal jika dijumlah dengan rupiah, tentu tidaklah murah.
Tidak semua orang senang membeli buku, tetapi sungguh sayang jika hanya sekedar jadi pajangan. Karena itulah, koleksi buku kita mesti dihidupkan. Selain agar uang yang telah dikeluarkan tidak menjadi percuma, menghidupkan buku koleksi juga bisa menjadi ladang amal jariyah.
Supaya buku yang dibeli tak sekedar menjadi koleksi, ada beberapa tips yang bisa Anda coba.
1)   Dari yang Disukai Menuju yang Dibutuhkan
Tak sedikit dari kita lebih mengutamakan buku yang dibutuhkan, meskipun tidak disukai. Padahal, pertimbangan tersebut tidak sepenuhnya benar. Selain hanya akan menambah tumpukan buku di rumah, hal itu juga bisa mendegradasi minat baca keluarga. Sebaiknya, pilihlah genre-genre buku yang disukai anggota keluarga, meskipun tentunya tetap dengan seleksi akan kandungannya. Jika kita suka novel, utamakan membeli buku-buku novel. Karena hal itu akan membuat kita semangat membacanya. Saat ini, banyak sekali pilihan-pilihan novel-novel dengan konten islami dan berkualitas.
Setelah semangat membaca kita terjaga, barulah kita membeli buku-buku yang dibutuhkan. Apa prioritasnya? tentunya, visi dan misi pribadi dan keluarga-lah yang dijadikan panduan.
2)   Ketahuilah Isi Buku Sebelum Anda Membelinya
Seringkali judul buku dibuat untuk menarik minat konsumen. Padahal isinya belum tentu sesuai harapan. Karena itulah penting bagi kita untuk mencari informasi tentang isi buku sebelum membelinya. Pastikan isi buku yang kita beli sesuai dengan yang kita bayangkan. Caranya bisa dengan membuka daftar isinya, atau membacanya dengan acak mulai halaman depan, tengah lalu belakang. Jangan sungkan-sungkan untuk minta ijin kepada pemilik atau penjaga toko, supaya kita bisa membuka segelnya. Tentu dengan alasan untuk mengetahui isinya sebelum kita membelinya. Jika tidak diperbolehkan, kita bisa membaca penjelasan ringkasan isi yang biasanya terdapat pada bagian belakang covernya, atau bisa juga dengan menjelajahi dunia maya.  Jangan sampai kita kecewa ketika sudah membelinya, pas sampai di rumah, eh isinya ternyata jauh dari  yang kita duga.  
3)   Bukan Sekedar Murah
Siapa sih yang tidak ingin membeli barang dengan harga murah? semuanya pasti suka. Tapi perlu diingat, bahwa harga murah bukan berarti gratis atau tanpa rupiah. Buat apa kita membayar sesuatu yang dipastikan tidak akan bermanfaat ke depannya. Meskipun bisa saja buku yang murah lebih bermanfaat dibandingkan buku yang mahal. Tetapi jangan sampai buku murah tersebut bukan buku yang disukai, serta bukan pula yang dibutuhkan. Akhirnya, berakhir di rak sebagai pajangan.
Supaya tidak terjebak promo buku murah, listlah daftar buku yang ingin dibeli dan dibutuhkan. Sehingga ketika ada promo buku murah, kita bisa menyeleksi buku mana saja yang masuk dalam target pembelian.   
4)   Buatlah Program Membaca di Rumah
Punya koleksi satu buah buku yang dibacakan kepada anggota keluarga, jauh lebih bermanfaat dibandingkan punya koleksi segudang tetapi hanya jadi pajangan. Karena itulah, carilah waktu luang keluarga untuk berkumpul dan membaca buku bersama. Sebagai perangsang minat, bacakan satu buku secara rutin. Utamakan buku-buku kisah-kisah yang ringan, bukan buku-buku yang bersifat pemikiran.  
Bagi yang sudah berkeluarga, program membaca di rumah juga bisa dibuat dengan sayembara. Kita bisa menyiapkan hadiah menarik untuk anak-anak kita yang menamatkan buku bacaannya. Tak perlu mahal-mahal. Malahan jika anak sudah keranjingan membaca, bisa jadi mereka minta buku bacaan sebagai hadiahnya.
5)   Tak Perlu Alergi dengan Berantakan
Seringkali kita tidak terbiasa dengan kondisi berantakan. Bahkan terkait buku sekalipun. Seolah-olah buku tak terjamah di rak, jauh lebih indah daripada berantakan di lantai dan kasur. Padahal, bukankah kita membeli buku untuk dibaca? Bila demikian, biarlah para anggota keluarga menikmati cara membacanya masing-masing. Karena bisa jadi itulah cara mereka menikmati aktifitas membaca. Ada lho, orang yang buku bacaannya harus tetap tersimpan di tempat terakhir ia membacanya. Bahkan jika kita memindahkannya, selera bacanya pun lalu menghilang.
6)   Menulislah
Membaca dan menulis tak bisa dipisahkan. Jika mentok membaca karena malas, menulislah. Koleksi buku-buku di rumah bisa terbagi dua, yakni yang disukai atau  yang dibutuhkan. Biasanya kita berkutat pada buku-buku yang kita sukai saja. Padahal kita seringkali mengoleksi juga buku-buku yang kira-kira akan dibutuhkan, biasanya buku-buku yang dibutuhkan masuk dalam kategori buku rujukan. Dengan aktifitas menulis, koleksi buku rujukan tersebut akan menjadi hidup. Menulislah tentang isu yang aktual, karena temanya pasti akan berganti dan beragam. Dengan demikian, koleksi buku-buku kita akan terjamah semua. Bila sedang ramai isu tentang menikah dini, minimal buku-buku fikih wanita, psikologi, pergaulan Islam, serta pendidikan anak akan keluar dari rak kita. Tapi, rujukan kan bisa kita cari juga via internet? Bagi penulis, merujuk pada buku sumber jauh lebih memuaskan dan membahagiakan.
Itulah beberapa tips yang bisa dicoba untuk menghidupkan koleksi buku di rumah. Beberapa tips tadi hanyalah eksplorasi penulis. Tidak menutup kemungkinan, Anda pun memiliki tips-tips lain yang bisa diterapkan, bahkan lebih sesuai dengan keadaan di rumah. Ala kulli hal, Semoga tips-tips ini aplikatif dan bermanfaat. Aamiin.
(Ary H. – Islamic Writer Educator / 5 Dzulqo’dah 1437 H – 8 Agustus 2016)  

Haruskah Nikah Dini?

Wow, surprise.

Itulah reaksi pertama saya, begitu baca berita pernikahan dini seorang ustadz muda. Hingga kini beritanya booming di mana-mana. Di-up semua media. Dan meruaplah pro-kontra. Itu sudah pasti.
Di negeri yang kental liberalisasi ini, semua berhak memberikan pendapatnya. Dibedahlah itu fakta dari berbagai sisi.

Bagi kontra nikah dini, muncul kekhawatiran dengan diblow-upnya berita pernikahan ini. Kuatir menginspirasi. Maka diungkaplah berbagai data statistik agar tercapai justifikasi.

Kabarnya, nih, hasil survey Plan Indonesia sebanyak 44% pelaku pernikahan dini mengalami KDRT.  Kesimpulan pun mengarah pada perlunya merevisi usia pernikahan perempuan yang selama ini timpang dibandingkan laki-laki sebagaimana yang diatur dalam UU Perkawinan saat ini.

Hanya saja, perlu dipertanyakan juga. Apakah KDRT penyebabnya adalah semata-mata usia? Kalau usia hanyalah satu dari sekian faktor, mengapa solusinya mentok di revisi usia perkawinan? Bagaimana dengan stress masalah ekonomi, tekanan kriminalitas, godaan pornografi-pornoaksi yang melibas semua umur, narkoba/miras dan lain-lain?

Terus, diungkap juga, kabarnya di provinsi Jawa barat Barat tingkat perceraian sangat tinggi dari tahun ke tahun. Perbandingan pada tahun 2013 hingga Oktober 2014  mengalami tingkat angka perceraian hampir mencapai 10% dibanding jumlah pernikahan. Artinya, peningkatan angka perceraian cukup signifikan dibandingkan tahun sebelumnya. Demikian dikatakan Kepala Subbag Informasi dan Humas Kanwil Kementerian Agama Provinsi Jabar, Abdurrahim, pada Seminar Pendewasaan Usia Perkawinan di Bandungbeberapa waktu lalu. Lebih lanjut Abdurrahim menyatakan bahwa salah satu penyebabnya adalah pernikahan usia dini.

Tuh, kan, hanya salah satu penyebab. Bagaimana dengan penyebab lainnya? Saya jadi mikir sendiri, yang bermasalah itu usianya atau pendewasaannya?

Lalu ada lagi data dari riskesdas 2010, jumlah kematian ibu karena terlalu muda melahirkan sebanyak 2,6 %.

Lalu, yang 7,4% nya gimana? Terus penyebab kematian ibu melahirkan di usia muda, apa sudah ditelusur baik-baik? Jangan-jangan karena faktor kurang gizi, kurang pengetahuan, tak punya duit buat ongkos bersalin, atau prosedur bpjs yang bebelit-belit. Bukan semata-mata tersebab usia.

Lalu, yang melahirkan di luar nikah, apa udah dimasukin ke data statistik? Ternyata banyak juga tuh abg melahirkan yang sehat-sehat saja. Bahkan melahirkannya ada yang di dalam WC, tanpa pertolongan memadai.

Saya di sini cuma mau obyektif saja melihat fakta.

Nah, bagi yang pro-nikah dini, ada juga data tandingannya. Tuh, lihat, tingginya angka gaul bebas di kalangan remaja. Yang kena Hiv/Aids ternyata kebanyakan adalah remaja. Belum lagi married by accident. LGBT? Oh no, remaja juga ketularan gaya gaul jenis ini.

Hasil penelitian Yayasan Kesuma Buana (dalam http:/www.acicis.murdoch.edu.au, diakses pada 10 Maret 2012) “menunjukkan bahwa sebanyak 10.3% dari 3,594 remaja di 12 kota besar di Indonesia telah melakukan hubungan seks bebas”, berdasarkan penelitian di berbagai kota besar di Indonesia, sekitar 20 hingga 30 % remaja mengaku pernah melakukan hubungan seks bebas. Celakanya perilaku seks bebas tersebut berlanjut hingga menginjak ke jenjang perkawinan (doyan selingkuh maksudnya). Ini di mungkinkan karena longgarnya kontrolan orang tua pada mereka.

Pakar seks juga spesialis Obstetri dan Ginekologi Dr. Boyke Dian Nugraha di Jakarta mengungkapkan, dari tahun ke tahun data remaja yang melakukan hubungan seks bebas semakin meningkat. Dari sekitar 5 % pada tahun 1980, menjadi 20 % pada tahun 2000. Gunawan, (2011:52)

Data tersebut sejalan dengan survei Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) pada tahun 2010, 52 persen remaja Medan sudah melakukan seks bebas yang berdampak kepada terjangkitnya penyakit Infeksi Menular Seksual (IMS), (dikutif dari www.kompas.co.id diakses pada tanggal 20 Maret 2012). Ini artinya setiap tahunnya fenomena seks bebas atau perilaku sek pra-nikah yang dilakukan remaja terus mengalami peningkatan bahkan menambah korban penularan PMS (penyakit menular seks).

Perilaku seks bebas yang melanda remaja sering sekali menimbulkan kecemasan para orang tua, pendidik, pemerintah, para ulama dan lain-lain. Untuk itu, perlu dilakukan penanganan sedini mungkin untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan seperti aborsi. Aborsi adalah dampak paling berbahaya dari seks bebas, yang dari tahun ke tahun semakin banyak dilakukan remaja di indonesia Sebanyak 62,7% remaja SMP tidak perawan dan 21,2% remaja mengaku pernah aborsi.Perilaku seks bebas pada remaja tersebar di kota dan desa pada tingkat ekonomi kaya dan miskin.

Departemen kesehatan RI mencatat bahwa setiap tahunnya terjadi 700 ribu kasus aborsi pada remaja atau 30% dari total 2 juta kasus dimana sebagian besar dilakukan oleh dukun. Dari penelitian yang dilakukan PKBI tahun 2005 di 9 kota mengenai aborsi dengan 37.685 responden, 27% dilakukan oleh klien yang belum menikah dan biasanya sudah mengupayakan aborsi terlebih dahulu secara sendiri dengan meminum jamu khusus. Sementara 21,8% dilakukan oleh klien dengan kehamilan lanjut dan tidak dapat dilayani permintaan aborsinya.

Kalau dilihat-lihat, dibanding-banding, kok kayaknya lebih parah data akibat pergaulan bebas remaja, ya? Jadi kalo kita mau ngerem nikah dini, apa kita punya solusi buat persoalan gaul bebas dan kawan-kawannya?
 
Realitas berbicara, arus kebebasan sudah merajalela. Kebebasan ekspresi dan berpendapat, menguar, mencuci otak remaja. Filter diserahkan ke diri masing-masing.

Peran negara? Tukang nyalahin orangtua. Bikin kebijakan semena-mena. Minta dukungan sana sini supaya dapat dukungan untuk memberantas nikah dini. Tapi tidak bertanggungjawab membendung arus kebebasan. Tak memberi batasan jelas makna pornografi dan pornoaksi. Katanya sih takut melanggar HAM. Komitmen minimalis memblokir situs porno yang bikin narkolema. Belum lagi sistem pendidikan yang tidak mendewasakan remaja. Disuruh mikir studi terus biar cepat dapat kerja. Ujung-ujungnya, keluarga yang dituntut membentengi remaja.

Lah, berapa persen sih keluarga yang paham untuk membentengi anaknya dari pengaruh merusak? Dan seberapa kuat mereka membendung arus yang dibuka kerannya, justru oleh penguasa?

Geleng-geleng kepala saya.

Kembali ke data statistik kontra nikah dini tadi. Jika persentasi kemudharatan yang terjadi oleh nikah dini, toh, ternyata didominasi oleh faktor di luar usia, maka solusi seharusnya diarahkan ke sana.

So, dengan berbagai keruwetan ini, haruskah nikah dini diperdebatkan?

Pe-er ke depannya bagi yang terinspirasi (kayaknya saya, nih), kudu nyiapin anak sebaik-baiknya. Kalo anaknya perempuan, disiapin jadi calon ibu rumah tangga yang baik dan benar, upps, shalihah maksudnya. Nah, kalo laki-laki, siapin jadi imam rumah tangga yang shalih kayak Alvin. Plus satu lagi yang tak kalah penting, jadikan dia generasi teladan, pioner, perubah menuju peradaban gemilang.

#Eva, Kandangan, Kalsel, 7 agustus 2016